Guru Hakkin: Goresan Pena
Tampilkan postingan dengan label Goresan Pena. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Goresan Pena. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 Februari 2023

Tips Mengajar di Era DIgital

Menjadi guru di era digital merupakan tantangan tersendiri bagi para pendidik. Perkembangan teknologi membawa banyak perubahan dalam dunia pendidikan, sehingga menuntut para guru untuk mengikuti perkembangan tersebut dan mengaplikasikan teknologi dalam proses belajar-mengajar. Berikut adalah beberapa tips bagi para guru untuk menjadi lebih baik di era digital:

 

1.        Pelajari tentang teknologi Pendidikan

Para guru harus memahami teknologi pendidikan yang ada dan bagaimana teknologi tersebut dapat membantu proses belajar-mengajar. Ini termasuk mempelajari tentang software dan aplikasi pendidikan, serta bagaimana menggunakannya dalam kelas.

 Baca Juga : Transformasi Belajar di Era Digital

2.        Gunakan media digital:

Guru dapat menggunakan media digital seperti video, presentasi, dan aplikasi pendidikan untuk membantu siswa memahami materi dengan lebih baik. Media digital juga mempermudah guru untuk membuat dan menyimpan catatan pembelajaran.

 

3.        Jadilah model untuk siswa

Guru harus menjadi model bagi siswa dalam menggunakan teknologi. Ini akan membantu siswa memahami bagaimana teknologi dapat digunakan untuk membantu proses belajar-mengajar.

 

4.        Gunakan teknologi untuk meningkatkan interaksi

Teknologi seperti video conferencing dapat digunakan untuk meningkatkan interaksi antara guru dan siswa. Ini juga membantu guru untuk memantau perkembangan siswa dan memberikan bimbingan yang lebih efektif.

 

5.        Buat konten yang menarik

Guru harus membuat konten belajar yang menarik dan menyenangkan bagi siswa. Ini dapat dilakukan dengan menggunakan media digital seperti video dan animasi.

 

6.        Kerjakan sama dengan siswa

Guru harus bekerja sama dengan siswa untuk menemukan cara terbaik mengaplikasikan teknologi dalam proses belajar-mengajar. Guru harus terbuka untuk menerima masukan dan saran dari siswa.

 

7.        Jangan lupa tentang nilai-nilai pendidikan tradisional

Meskipun era digital membawa banyak perubahan, para guru tetap harus menjaga nilai-nilai pendidikan tradisional seperti disiplin, tanggung jawab, dan kerja keras.

 

Dengan mengikuti tips di atas, para guru dapat memanfaatkan teknologi untuk membantu proses belajar-mengajar dan juga aktivitas belajar lainnya.






Senin, 06 Februari 2023

Transformasi Belajar di Era Digital

 


Era digital telah membawa perubahan besar dalam banyak aspek kehidupan kita, termasuk dalam dunia pendidikan. Teknologi pendidikan membantu memperbaiki dan meningkatkan proses belajar mengajar, serta memberikan akses pendidikan yang lebih luas dan mudah bagi siswa dan guru.

Berikut adalah beberapa cara teknologi pendidikan mempengaruhi dunia pendidikan:

1.     Akses Pendidikan yang Lebih Luas: Dengan teknologi, siswa dapat belajar kapan saja dan di mana saja, bahkan tanpa harus berada di kelas. Mereka dapat mengakses sumber belajar online, seperti video tutorial, e-book, dan aplikasi pembelajaran, yang mempermudah proses belajar.

2.  Pembelajaran Interaktif: Teknologi memungkinkan siswa untuk belajar dengan cara yang lebih interaktif dan menyenangkan. Mereka dapat menggunakan perangkat seperti tablet dan smartphone untuk mengakses materi pembelajaran, serta berkolaborasi dengan teman dan guru melalui platform daring.

3. Personalisasi Pembelajaran: Teknologi membantu guru menyesuaikan pembelajaran siswa dengan kemampuan dan minat mereka. Ini membuat siswa merasa lebih terlibat dan tertarik dalam proses belajar, dan mempermudah guru untuk memberikan bantuan dan feedback yang tepat.

4. Ekonomis: Teknologi pendidikan membuat pendidikan lebih ekonomis dan terjangkau bagi masyarakat. Siswa dapat mengakses sumber belajar online tanpa harus membayar biaya tinggi seperti buku teks atau biaya sekolah, yang dapat mengurangi beban keuangan bagi keluarga.

5.  Inovasi dan Kreativitas: Teknologi pendidikan membantu meningkatkan inovasi dan kreativitas siswa. Mereka dapat belajar menggunakan teknologi dan mempraktikkan apa yang mereka pelajari, membantu mereka menjadi generasi masa depan yang inovatif dan kreatif.

 

Namun, meskipun teknologi pendidikan memiliki banyak manfaat, ada juga beberapa hal yang perlu diperhatikan, seperti keamanan data dan masalah sosial. Oleh karena itu, penting bagi sekolah dan guru untuk menggunakan teknologi dengan bijak dan memastikan bahwa anak-anak

Rabu, 23 Maret 2016

Menelusuri Makna Perkalian Plus dan Minus

1) Mengapa PLUS dikali PLUS hasilnya PLUS?
2) Mengapa MINUS dikali PLUS atau sebaliknya PLUS dikali MINUS hasilnya MINUS?
3) Mengapa MINUS dikali MINUS hasilnya PLUS?
Hikmahnya adalah:
(+) PLUS = BENAR
(-) MINUS = SALAH
1. Mengatakan BENAR thd sesuatu hal yg BENAR
adalah suatu tindakan yg BENAR.
Rumus 
+ x + = +
2. Mengatakan BENAR thd sesuatu yg SALAH, atau sebaliknya mengatakan SALAH thd sesuatu yg BENAR adalah
suatu tindakan yg SALAH.
Rumus matematikanya:
+ x – = -
– x + = -
3. Mengatakan SALAH thd sesuatu yg SALAH adalah
suatu tindakan yg BENAR.
Rumus matematikanya:
– x – = +
Pelajaran matematika ternyata sarat makna.
Kebenarannya pasti/exact,  yg bs kita ambil sebagai Pelajaran Hidup.
          
Untuk matematika pembagian, adalah sbb:
1 ÷ 1 = 1
1 ÷ 2 = 1/2
1 ÷ 10 = 1/10
1 ÷ 100 = 1/100
Sdg kan 1 ÷ 0 = ~ ( tak terhingga).
Maknanya adalah:
- Kalau kita melakukan perbuatan baik, spt sedekah misalnya, kemudian kita mengharapkan balasan atas perbuatan itu, mk semakin kita bnyk berharap, hasilnya akan semakin kecil (1/100 dst).
Tetapi ketika kita melakukannya dgn Ikhlas, tanpa mengharapkan sesuatu imbalan apa pun, atau 1 ÷ 0,
maka hasilnya akan "Tak Terhingga"
yg artinya Tuhan akan memberikan balasan atas keikhlasan kita dgn balasan yg tak terhingga (Penuh Keberkahan)
✔ Tatkala engkau memperbaiki niatmu,
saat itulah Tuhan memperbaiki keadaanmu
✔ Ketika engkau menginginkan kebaikan utk org lain, maka kebaikan itu datang kepadamu dari arah yg tidak engkau kira
✔ Di saat kita hidup utk membuat orang lain bahagia, Tuhan menjadikan orang lain membahagiakan kita
✔ Maka carilah selalu celah utk
"MEMBERI", bukan "mengambil"
✔ Setiap kali engkau memberi, maka di saat itulah engkau diberi (oleh Allah), tanpa engkau meminta.

Jumat, 11 Maret 2016

KEBERPIHAKAN YANG JELAS


Ustadz DR Muslih Abdulkarim, di Masjid Brimob Kelapa Dua tentang LGBT : 
Membiarkan LGBT berarti menyiapkan diri dan bumi tempat kita berpijak utk mendapat murka Allah Ta'ala. Ada dua macam tarikan  negatif yg mesti kita kendalikan. Pertama Hawa nafsu, kedua syahwat.

Selama ini dua hal itu kita anggap sama, padahal tidak. Hawa nafsu itu tarikan yang sifatnya ke arah ego. Sedangkan syahwat itu tarikan yang sifatnya fisik/material. Silakan cek Al Qur’an.

Kata syekh Abdul Qadir al-Jailani, puncak dari mempertuhankan hawa nafsu adalah mempertuhankan diri sendiri, yg tercermin dari ucapan Fir'aun yang menyatakan dirinya Rabb (tuhan pemelihara).
Sedangkan puncak dari pemujaan terhadap syahwat adalah homoseksual. (kisah kaum Nabi Luth).
Kenapa kita mesti concern ttg LGBT, karena kalau kita lihat di Al Qur'an hukuman bagi para pemuja Hawa nafsu itu beda dengan hukuman bagi pemuja syahwat. Pemuja hawa nafsu seperti Fir'aun, yg dihancurkan itu cuma Fir'aun dan tentara nya saja. Kota Mesir nya masih tetap ada.

Sedangkan pemuja syahwat itu dihancurkan sampai ke bumi tempat mereka berpijak. TOTAL!!!  Artinya kucing dan tikus liar yang menumpang makan di situ ikut terkena bencana. Dan itu bukan hanya kejadian di kota Sodom. Kita lihat pola yg sama di Pompeii, lalu di sebuah dusun kecil, Lagetang. Semuanya polanya sama. Pemujaan terhadap syahwat -> melampaui batas sampai muncul perilaku homosex -> menunggu bencana. Bahkan itu juga yang terjadi menjelang kiamat... Dalam hadits, digambarkan manusia hilang malunya sehingga biasa untuk ngeseks di pinggir jalan. 

Jadi menurut yang saya pahami, perilaku homosex tidak boleh dibiarkan begitu saja. Harus kita cegah... Tentunya bukan dengan memusuhi pelaku. Tapi yang kita cegah adalah tersebarnya paham tersebut.
Setidaknya bertindak agar jelas posisi kita. Misalnya tidak beli kopi di Starbucks, atau kalau mampu, melakukan counter campaign atau penyadaran bagi para homosex.

Sebagai penutup, saya ingin mengutip sebuah kisah tentang keberpihakan. Di saat Nabi Ibrahim dibakar Raja Nimrod, seekor semut membawa setetes air (dalam riwayat lainnya, seekor burung yang membawa air) lalu seekor burung lainnya kemudian bertanya, "untuk apa kamu bawa air itu?"
"ini air untuk memadamkan api yang sedang membakar kekasih Tuhan, Ibrahim."
"Hahaha... Tak akan guna air yang kamu bawa", kata burung.
"Aku tahu, tetapi dengan air ini aku bisa menjawab ketika Tuhanku bertanya, apa yang telah aku lakukan untukk menolong agama Allah".
Atau
"Aku tahu, tetapi dengan ini aku menegaskan di pihak manakah aku berada"
Wallahu'alam